Dailybisnis.com, Deliserdang – Perayaan ulang tahun ke-29 PT Pertamina Patra Niaga tahun ini tidak dirayakan dengan kemewahan di gedung tinggi, melainkan di barisan tabung gas dan kepulan debu desa. Pada Jumat (27/2/2026), jajaran direksi turun langsung ke akar rumput, tepatnya di Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Desa Medan Krio, Kabupaten Deli Serdang.
Kunjungan ini bukan sekadar seremoni. Komisaris PT Pertamina Patra Niaga, Panel Barus, membawa misi besar: memastikan subsidi energi tidak lagi salah alamat.
Menambal Celah Distribusi
Di tengah pemukiman padat penduduk, Panel menemukan fakta lapangan yang kontras. Desa Medan Krio dihuni oleh sekitar 17.000 jiwa atau 4.250 kepala keluarga, namun kuota LPG 3 kg yang tersedia hanya 300 tabung per bulan.
“Jika satu keluarga butuh 5-6 tabung sebulan, stok 300 tabung itu akan ludes hanya dalam dua hari. Sisanya, dari tanggal 3 sampai akhir bulan, warga mau masak pakai apa?” cetus Panel di sela peninjauan.
Merespons ketimpangan tersebut, Pertamina Patra Niaga tengah menggodok pola distribusi baru yang melibatkan 30.000 koperasi desa di seluruh Indonesia. Tujuannya jelas: memangkas rantai distribusi agar lebih efisien dan tepat sasaran.
Status KDMP pun didorong untuk naik kelas dari sub-pangkalan menjadi pangkalan resmi dengan kuota mencapai 3.000 tabung.
Visi Desa Mandiri: Beras Premium hingga Gas Murah
Kepala Desa Medan Krio, Chairul Azmi, melihat kehadiran Pertamina sebagai kepingan puzzle yang melengkapi visi kemandirian desanya. Medan Krio bukan desa biasa; mereka memiliki 300 hektare sawah produktif yang kini telah mampu menghasilkan Beras Premium sendiri.
Namun, kemandirian pangan saja tidak cukup tanpa dukungan energi dan sarana produksi. Chairul mengusulkan agar koperasi desa juga diberi wewenang menyalurkan pupuk bersubsidi langsung ke petani.
“Kami ingin membangun ekonomi desa yang kuat. Di sini, anggota koperasi bisa membeli LPG 3 kg seharga Rp16.000, lebih murah seribu rupiah dibanding non-anggota. Ini manfaat nyata berkoperasi,” ungkap Chairul optimis.
Sinergi Antar-Koperasi Lawan Inflasi
Uniknya, Medan Krio juga menerapkan strategi inter-koperasi. Mereka melakukan sistem barter komoditas dengan koperasi di Kecamatan Beringin. Beras premium Medan Krio ditukar dengan pasokan bawang merah dari Beringin. Hasilnya? Harga pangan lebih stabil dan inflasi di tingkat desa dapat ditekan.
Kondisi distribusi energi di Desa Medan Krio saat ini ibarat sebuah mesin yang kekurangan bahan bakar. Dengan populasi mencapai 17.000 jiwa, jatah 300 tabung LPG 3 kg per bulan hanyalah setetes air di padang pasir. Padahal, kebutuhan riil masyarakat menuntut ketersediaan hingga 3.000 tabung per bulan agar dapur warga tetap bisa mengepul sepanjang bulan, bukan hanya di dua hari pertama.
Namun, di tengah keterbatasan subsidi energi tersebut, warga Medan Krio telah membuktikan taringnya di sektor pangan. Berbekal 300 hektare lahan pertanian yang masih hijau dan produktif, desa ini tidak lagi sekadar menanam padi, melainkan sudah berhasil memproduksi Beras Premium sendiri melalui hilirisasi mandiri.
Kini, target berikutnya adalah memastikan rantai produksi tersebut semakin kokoh. Melalui Koperasi Desa, warga berharap bisa mendapatkan akses langsung terhadap pupuk subsidi guna menjaga produktivitas lahan.
Sebagai bentuk apresiasi bagi masyarakat yang bergotong-royong, koperasi pun memberikan insentif nyata: setiap anggota dapat membawa pulang LPG 3 kg dengan harga Rp16.000, lebih murah dari harga umum.
Sinergi antara stabilitas harga energi dan ekspansi pasar melalui kerja sama antar-koperasi inilah yang menjadi fondasi baru bagi ekonomi desa yang lebih berdaya.
Di usia yang hampir mencapai tiga dekade, Pertamina Patra Niaga menegaskan posisinya bukan sekadar perusahaan pencari laba, melainkan mitra strategis desa. Dari SPBU nelayan hingga pangkalan gas di pelosok, komitmen “hadir di tengah rakyat” kini diuji melalui efektivitas 30 ribu koperasi yang siap beroperasi tahun ini.
























