Dailybisnis.com, Aceh Tamiang – Tumpukan kotoran gajah yang berserakan di antara sisa batang kelapa sawit yang baru ditebang di Resort Tenggulun, Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), menjadi bukti nyata bahwa kawasan tersebut masih menjadi ruang jelajah vital bagi satwa liar. Temuan ini memperkuat urgensi pemulihan ekosistem di wilayah yang sebelumnya sempat dirambah menjadi perkebunan sawit ilegal tersebut.

Direktur Green Justice Indonesia (GJI), Panut Hadisiswoyo, menekankan bahwa Resort Tenggulun merupakan bagian krusial dari blok timur bentang alam Leuser yang menjadi habitat empat satwa kunci, yakni harimau sumatera, gajah sumatera, orangutan sumatera, dan badak sumatera.
“Tadi kita juga banyak melihat kotoran gajah memang berserakan di wilayah ini, tanda sebagai bukti bahwa ini adalah habitat satwa kunci. Oleh karena itu penting sekali untuk memulihkan, tidak hanya sebagai rumah satwa, tapi juga sebagai benteng pertahanan untuk menjaga kita dari bencana alam, karena areal ini adalah penyangga kehidupan, daerah aliran sungai, sumber mata air, yang memang menjaga kehidupan kita dan menjaga keselamatan kita,” ujar Panut, Kamis (9/7/2026).
Menurut Panut, pemulihan kawasan ini sangat mendesak untuk mencegah fragmentasi habitat lebih lanjut. Selain itu, kawasan ini berfungsi sebagai hulu yang krusial bagi wilayah Aceh Tamiang. Ia mengingatkan kembali dampak bencana banjir besar pada November 2025 yang melumpuhkan ekonomi dan infrastruktur daerah tersebut.

“Kita tahu bahwa ini adalah di wilayah Aceh Tamiang di mana bencana tahun lalu, 2025 di November, Tamiang adalah daerah yang terparah mendapatkan bencana. Sehingga miliaran, bahkan triliunan rupiah itu hilang akibat kerusakan infrastruktur dan juga kehilangan berbagai sumber mata pencahayaan masyarakat dan tempat tinggal. Ini adalah hulunya,” tegasnya.
Proses restorasi ini ditargetkan tuntas dalam tiga hingga lima tahun melalui tahapan penanaman pohon hutan asli dan pengamanan kawasan. Untuk memastikan keberlanjutan, tim restorasi melibatkan masyarakat lokal dalam pemeliharaan serta membangun pondok penjagaan agar hutan tidak kembali dirambah.Di sisi lain, upaya pembersihan fisik terus dilakukan secara intensif.
Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah V Besitang, Andoko Hidayat, mengungkapkan bahwa tim baru saja menumbangkan sekitar 470 batang kelapa sawit yang sebelumnya tidak terjangkau alat berat saat operasi penertiban pada November 2025.

“Setelah kami lakukan pemantauan menggunakan drone, ternyata masih ada sisa-sisa sawit yang tidak terjangkau alat berat. Hari ini kami melakukan penumbangan secara manual bersama OIC sebagai bagian dari pemulihan ekosistem,” kata Andoko.
Dengan luas total TNGL mencapai 830 ribu hektare, pemulihan fungsi kawasan di Tenggulun menjadi langkah strategis untuk menjaga keanekaragaman hayati sekaligus memastikan wilayah hulu tetap mampu memberikan fungsi ekologis bagi 2,4 juta penduduk yang bergantung pada sistem air bentang alam Leuser.











