Di tengah tren penurunan laba yang membayangi anak usahanya, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, memenuhi panggilan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada Jumat (9/1).
Pertemuan strategis ini menjadi sinyal kuat percepatan restrukturisasi internal Pertamina guna menambal kebocoran profitabilitas.
Meski produksi migas tercatat terus meningkat seiring beroperasinya berbagai kilang baru, Pertamina kini menghadapi realitas pahit: penurunan laba. Kondisi ini dipicu oleh lemahnya permintaan global serta ketidakpastian pasar yang menekan margin keuntungan salah satu dari tiga anak usaha strategis perseroan.
Merger Sebagai Solusi Penyelamatan
Untuk mengatasi persoalan finansial tersebut, integrasi bisnis hilir menjadi agenda utama yang dilaporkan kepada Menkeu.
Rencana penggabungan tiga raksasa—Kilang Pertamina Internasional (KPI), Pertamina Patra Niaga (PPN), dan Pertamina International Shipping (PIS)—diharapkan mampu menciptakan efisiensi operasional yang lebih tajam.
“Supaya lebih efektif, memang ada kajian untuk menggabungkan Kilang, PIS, dan PPN,” ungkap Simon.
Langkah ini juga dinilai krusial agar arah bisnis perusahaan selaras dengan kebijakan BPI Danantara.
Selain restrukturisasi, pertemuan tersebut turut membahas peluang pemberian insentif dan keringanan pajak bagi sektor migas tahun ini.
Dukungan fiskal dari Kemenkeu dianggap menjadi kunci agar proses merger yang sempat tertunda sejak 1 Januari 2026 ini bisa segera dieksekusi demi memulihkan kesehatan neraca keuangan perusahaan.











































