Dailybisnis.com, Deliserdang – Persoalan klasik penguasaan lahan negara tanpa kepastian hukum yang telah berlarut-larut sejak era reformasi kini menemukan titik terang. Melalui proyek strategis Kota Deli Megapolitan (KDM), PTPN I Regional 1 (dahulu PTPN II) sukses menyulap lahan bekas garapan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang modern di Sumatera Utara.
Bekerja sama dengan PT Ciputra KPSN (CKPN), proyek ini tidak hanya menata kawasan, tetapi juga menjadi solusi atas konflik sosial dan ketidakteraturan fiskal yang terjadi selama puluhan tahun di lahan negara tersebut.
Lonjakan Drastis Pendapatan Daerah
Hampir 80 persen lahan proyek KDM sebelumnya merupakan lahan garapan ilegal yang memicu tunggakan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Namun, sejak pengembangan berdasarkan Perpres No. 62 Tahun 2011 dimulai, kontribusi fiskal bagi daerah melonjak secara luar biasa.
General Manager CitraLand Tanjung Morawa, Taufik Hidayat, memaparkan data kenaikan nilai PBB yang sangat signifikan di kawasan pengembangan tersebut.
“Dulu, nilai PBB hanya sekitar Rp21 ribu per bidang lahan. Setelah dikembangkan melalui KDM, nilainya meningkat tajam menjadi sekitar Rp600 ribu (naik lebih dari 2.800%). Selain itu, kontribusi besar juga datang dari BPHTB yang mencapai 2,5 persen dari nilai transaksi,” jelas Taufik, Rabu (14/1/2026).
Dengan estimasi nilai pengembangan mencapai Rp2 triliun, kas daerah dipastikan mendapat guyuran dana segar dari BPHTB serta skema bagi hasil jangka panjang bagi negara melalui PTPN.
Multiplier Effect: Dari Tenaga Kerja Hingga Warung Nasi
Dampak nyata KDM meresap langsung ke tingkat ekonomi akar rumput. Hingga saat ini, proyek mega-nasional ini telah menyerap lebih dari 1.000 tenaga kerja lokal.
Manfaat ini dirasakan langsung oleh Ryan, warga Tanjung Morawa yang kini memiliki pekerjaan tetap setelah sebelumnya hanya bekerja serabutan. Tak hanya itu, sektor UMKM di sekitar lokasi pun ikut mencicipi “kue” pembangunan. Pak Gun, seorang pemilik warung nasi setempat, mengaku omzetnya melonjak drastis sejak ribuan pekerja mulai memadati kawasan tersebut.
Solusi Banjir dan Tata Ruang Modern
Selain aspek finansial, KDM membawa perubahan infrastruktur yang menjawab keluhan klasik warga. Kawasan yang dulunya merupakan langganan banjir kini telah ditata dengan:
- Sistem Drainase Modern: Pengaturan aliran air yang terencana untuk mencegah genangan.
- Danau Retensi: Berfungsi ganda sebagai penampung air sekaligus fasilitas estetika kawasan.
“Properti adalah lokomotif ekonomi yang menggerakkan banyak lini usaha, mulai dari pabrik material hingga jasa keamanan. Semuanya berputar menciptakan multiplier effect yang besar bagi Sumatera Utara,” tambah Taufik.
Keberhasilan Kota Deli Megapolitan dalam mengubah lahan konflik menjadi aset produktif diharapkan menjadi model percontohan nasional dalam transformasi aset negara yang menyeimbangkan kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan.











































