Dailybisnis.com, Medan – Momentum peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 tahun 2026 dimanfaatkan Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Kota Medan untuk melayangkan kritik keras terhadap jalannya roda pemerintahan.
KNPI menilai Pemerintah Kota (Pemko) Medan telah gagal menjalankan peran strategisnya, baik dalam merangkul potensi pemuda maupun dalam menata pembangunan kota secara menyeluruh.
Ketua DPD KNPI Kota Medan, Matius Situmorang, menegaskan bahwa semangat Boedi Oetomo yang mengedepankan persatuan pemuda untuk membangun bangsa kini justru meredup di Kota Medan akibat kebijakan yang tidak berpihak pada generasi muda.
“Hari Kebangkitan Nasional mengingatkan kita bahwa kemajuan dimulai dari kesadaran pemuda. Sayangnya, di Medan hari ini pemuda justru merasa diabaikan. Ruang partisipasi minim, program kepemudaan jalan di tempat, dan komunikasi antara Pemko Medan dengan komunitas pemuda putus,” ujar Matius Situmorang dalam keterangannya, Rabu (20/5/2026).
Dua Dosa Besar Pemko Medan
KNPI Kota Medan menyoroti dua kegagalan utama yang saat ini menjadi rapor merah bagi Pemko Medan:
- Gagal Merangkul Pemuda: Pemko Medan dinilai belum mampu menghadirkan ekosistem yang memberi ruang nyata bagi pemuda untuk berkontribusi. Banyak program kepemudaan dituding hanya bersifat seremonial tanpa adanya keberlanjutan. Organisasi kepemudaan (OKP), komunitas kreatif, dan wirausahawan muda lokal kerap ditinggalkan, sehingga energi pemuda Medan tidak tersalurkan dengan baik untuk pembangunan kota.
- Gagal Menata Kota di Setiap Sektor: Perencanaan pembangunan dari sektor tata ruang, infrastruktur, pendidikan vokasi, hingga ekonomi kreatif dinilai tidak terintegrasi. Matius menyebut maraknya kemacetan, minimnya ruang publik produktif, tingginya tingkat kriminalitas, serta rendahnya dukungan terhadap inovasi pemuda menjadi bukti nyata lemahnya arah kebijakan Pemko Medan saat ini.
Pemuda Harus Jadi Subjek, Bukan Objek Proyek
Lebih lanjut, Matius mengingatkan bahwa indikator keberhasilan kota besar tidak boleh hanya diukur dari banyaknya proyek fisik yang berjalan, melainkan dari seberapa besar kota tersebut mampu menjadikan pemudanya sebagai subjek utama pembangunan. Jika tidak, Medan terancam kehilangan generasi terbaiknya yang memilih berpaling ke daerah lain.
“Momentum Hari Kebangkitan Nasional 2026 harus dijadikan titik evaluasi serius. Pemko Medan perlu membuka dialog terbuka dengan pemuda, menyusun peta jalan (road map) pembangunan yang melibatkan pemuda, dan menghentikan pendekatan top-down yang tidak lagi relevan,” tegasnya.
KNPI Medan berharap peringatan 20 Mei tidak sekadar menjadi seremoni tahunan tanpa makna. Bangkitnya Kota Medan, menurut Matius, akan sangat tergantung pada seberapa serius pemerintah menaruh pemuda di pusat pusaran kebijakan daerah.











