Dailybisnis.com, Padangsidimpuan – Tak pernah terlintas di benak rekan-rekan Fadli bahwa canda tawa mereka di depan gerbang Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UMTS) akan berakhir dengan duka yang menyayat hati. Selasa (13/1/2026) siang, Jalan Raja Inal Siregar saksi bisu sebuah tragedi yang merenggut nyawa seorang siswa SMP Negeri 4 Padangsidimpuan.
Menanti yang Tak Pernah Datang
Fadli, remaja yang baru saja menyelesaikan jam sekolahnya, sedang duduk beristirahat bersama tiga temannya. Mereka hanya melakukan satu hal sederhana: menunggu angkutan umum (angkot) untuk pulang ke rumah. Namun, takdir berkata lain. Sebuah pohon besar yang berdiri di pinggir jalan tiba-tiba roboh tanpa peringatan sedikit pun.
Mirisnya, maut datang bukan di tengah badai atau hujan lebat. Cuaca saat itu sangat cerah. Namun, kondisi fisik pohon yang sudah tua dan keropos di bagian tengah membuatnya tumbang dan menghantam tepat di bagian kepala korban.
Luka Serius dan Isak Tangis Keluarga
Kepala Lingkungan 8 Batunadua Jae, Hamzah, mengonfirmasi bahwa kondisi pohon tersebut memang sudah tidak layak.
“Pohonnya sudah bolong di tengah, sudah tua dan sebenarnya harus ditebang. Tiba-tiba jatuh mengenai Fadli,” ungkap Hamzah dengan nada prihatin, Kamis (15/1/2026).
Hantaman keras dari batang pohon lapuk tersebut membuat Fadli langsung tersungkur tak berdaya. Meski warga bergerak cepat melarikannya ke RSUD Padangsidimpuan, tim medis menyatakan remaja tersebut meninggal dunia akibat luka sangat serius di kepala. Isak tangis pecah di rumah duka di Kelurahan Batunadua Jae saat jenazah korban tiba untuk disemayamkan.
Alarm bagi Pemerintah Daerah
Tragedi ini kini menjadi sorotan tajam masyarakat Padangsidimpuan. Keberadaan pohon-pohon tua di sepanjang jalan protokol yang dibiarkan tanpa perampingan dianggap sebagai “bom waktu” bagi keselamatan publik. Warga kini mendesak pihak terkait untuk segera menyisir dan menebang pohon-pohon lapuk agar tidak ada lagi nyawa yang melayang sia-sia di pinggir jalan.











































