Dailybisnis.com, Medan — Penemuan lima orangutan muda di kawasan hutan Bichitrapur, Distrik Balasore, Odisha, India, pada 8 September 2026, memicu perhatian serius para pakar konservasi internasional. Mengingat orangutan bukanlah satwa asli India dan hanya hidup di alam liar Sumatra serta Kalimantan/Borneo, keberadaan mereka di pesisir timur India diyakini bukan sekadar peristiwa alam biasa, melainkan indikasi kuat praktik perdagangan satwa liar lintas negara.
Pakar konservasi hutan dan lingkungan, Onrizal, PhD, menegaskan bahwa temuan ini harus dibaca sebagai tanda bahaya yang membutuhkan penanganan medis sekaligus penyelidikan forensik tingkat tinggi.
“Orangutan bukan satwa asli India. Di alam liar, mereka hanya hidup di Sumatra dan Kalimantan/Borneo. Karena itu, kemunculan lima individu muda sekaligus di sebuah hutan di pesisir timur India menimbulkan pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar bagaimana mereka bisa berada di sana,” kata Onrizal, PhD., Rabu (9/9).
Onrizal menyoroti keanehan biologis dari ditemukannya lima individu muda sekaligus tanpa didampingi induk. Dalam biologi primata, anak orangutan memiliki masa ketergantungan yang sangat panjang terhadap induknya—bahkan salah satu yang terpanjang di antara mamalia darat—dengan jarak antar-kelahiran induk mencapai tujuh hingga sembilan tahun.
“Menemukan lima orangutan muda bersama-sama tanpa induk bukanlah sesuatu yang lazim dalam kehidupan orangutan liar. Jika mereka benar-benar diambil dari alam ketika masih bergantung pada induknya, kerugian ekologis yang terjadi mungkin lebih besar daripada lima individu yang kini terlihat. Dalam banyak kasus perdagangan primata, pengambilan anak dari alam dapat disertai kematian atau cedera induknya,” tegasnya.
Penyelamatan Beriringan dengan Penyelidikan Forensik
Meskipun penanganan kesehatan dan tindakan karantina menjadi prioritas utama saat ini, proses hukum dan penelusuran bukti biologis tidak boleh dikesampingkan. Informasi genetik dari DNA, kondisi fisik, status nutrisi, hingga pola perilaku orangutan terhadap manusia dapat menjadi petunjuk penting untuk merekonstruksi jalur perdagangan mereka.
Pemeriksaan genetik (DNA) sangat krusial untuk menentukan apakah kelima individu tersebut merupakan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), orangutan Sumatra (Pongo abelii), atau orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis).
“Mengetahui bahwa satwa tersebut adalah orangutan hanya membawa penyelidikan ke wilayah yang sangat luas di Asia Tenggara. Tetapi jika analisis genetik dapat menunjukkan spesies, bahkan kemungkinan populasi asal, arah penyelidikan akan menjadi jauh lebih tajam. Dari sana, bukti biologis dapat dipadukan dengan informasi lain: jalur transportasi, dokumen, rekaman komunikasi, pelabuhan atau titik transit, kendaraan yang digunakan, pihak pengirim, perantara, hingga calon penerima,” ujar Onrizal.
Peran Aktif Indonesia dan Tantangan Repatriasi
Mengingat dua dari tiga spesies orangutan di dunia berada penuh di wilayah Indonesia dan sebagian besar orangutan Kalimantan juga hidup di Indonesia, pemerintah dan otoritas konservasi Indonesia didorong untuk mengambil sikap proaktif. Kerjasama lintas batas dalam pemetaan genetik dan penegakan hukum dianggap sangat vital tanpa harus menunggu status pasti kepemilikan satwa dari pihak India.
Mengenai wacana pengembalian satwa ke negara asal (repatriasi), Onrizal mengingatkan bahwa prosesnya membutuhkan kehati-hatian ekstra dan kajian mendalam.
“Memulangkan orangutan tidak sesederhana membeli tiket. Kita harus terlebih dahulu mengetahui spesiesnya, dan sejauh mungkin populasi asalnya. Kondisi kesehatan juga harus diperiksa secara ketat. Satwa yang telah berpindah jauh dan mungkin berhubungan dengan manusia atau satwa lain dapat membawa risiko penyakit bagi populasi liar,” jelasnya.
Membongkar Jaringan Transnasional
Perdagangan satwa liar internasional skala besar diyakini melibatkan banyak aktor, mulai dari pemburu, perantara, pemalsu dokumen, hingga pengelola titik transit dan pembeli akhir. Pertanyaan besar mengenai bagaimana lima primata berukuran cukup besar dapat menembus pos-pos pengawasan internasional hingga sampai ke Odisha harus dijawab tuntas.
“Lima orangutan muda yang ditemukan jauh dari hutan asalnya telah meninggalkan sebuah jejak. Jangan biarkan jejak itu berhenti di kandang penyelamatan. Ikuti jejak tersebut sampai ke sumbernya. Sebab, dengan membongkar jaringan yang membawa mereka ke Odisha, kita mungkin dapat mencegah orangutan berikutnya mengalami perjalanan yang sama,” pungkas Onrizal.



