Dailybisnis.com, Jakarta – Optimisme menyelimuti proyeksi ekonomi nasional menjelang tahun 2026. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu menyentuh angka 5,4 persen. Angka ini didorong oleh optimalisasi komponen domestik dan peran strategis badan investasi baru.
Dalam agenda Global & Domestic Economic Outlook 2026 di Jakarta, Kamis (15/1), Anindya memaparkan tiga pilar utama yang menjadi kunci pencapaian target tersebut:
1. Konsumsi Domestik yang Produktif
Anindya menekankan pentingnya efektivitas belanja pemerintah agar langsung menyentuh sektor riil. Program strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih harus melibatkan pelaku usaha lokal agar dampak ekonominya terdistribusi hingga ke daerah-daerah yang sebelumnya mengalami efek efisiensi.
2. Ekspansi Perdagangan
Kinerja perdagangan Indonesia yang terus menunjukkan tren positif dinilai sebagai modal kuat. Kadin mendorong agar sektor ini dimanfaatkan secara maksimal untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar global.
3. Akselerasi Investasi lewat Danantara
Sektor investasi diprediksi akan menjadi motor penggerak utama pada 2026. Kehadiran Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara diharapkan mampu menarik aliran modal lebih besar, didukung oleh stabilitas ekonomi nasional yang terjaga dengan baik.
Ambisi Pemerintah: Target 6 Persen
Senada dengan optimisme Kadin, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan memasang target yang lebih progresif, yakni 6 persen pada tahun 2026.
Untuk mencapai angka tersebut, Menkeu tengah menyiapkan strategi penyelarasan “tiga mesin pertumbuhan” yang terdiri dari:
• Fiskal: Melalui kebijakan anggaran yang suportif.
• Sektor Keuangan: Penguatan stabilitas dan likuiditas pasar.
• Investasi: Mendorong iklim penanaman modal yang berkelanjutan.
“Ketiganya diharapkan dapat bergerak selaras dan saling memperkuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” tegas Purbaya.
Divergensi angka antara Kadin (5,4%) dan Kemenkeu (6%) ini menunjukkan adanya ruang diskusi yang positif antara pelaku usaha dan regulator dalam menjaga momentum pertumbuhan Indonesia di masa depan.











































