Dailybisnis.com, Jakarta – Indonesia bersiap memasuki fase pertumbuhan ekonomi baru pada tahun 2026. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) memproyeksikan sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, dan pengelolaan investasi akan menjadi motor utama pendorong PDB ke level maksimum.
Dalam dokumen Danantara Economic Outlook 2026, lembaga pengelola investasi raksasa ini memetakan tiga kekuatan utama yang akan bekerja secara simultan:
1. Mesin Fiskal: Stimulus Makanan Bergizi Gratis (MBG)
Inisiatif program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dipandang bukan sekadar program sosial, melainkan mesin fiskal yang mampu mempercepat penyerapan anggaran. Program ini diharapkan menjadi pendorong sisi permintaan (demand-side) yang konsisten di tengah masyarakat, sekaligus menggerakkan ekonomi akar rumput.
2. Mesin Moneter: Efek Domino Penurunan Suku Bunga
Dampak dari pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 125 basis poin (bps) sepanjang tahun 2025 diprediksi akan mencapai puncaknya pada 2026.
“Permintaan pinjaman modal kerja diperkirakan pulih seiring dengan aktivitas bisnis yang diperbarui dan pengeluaran operasional yang meningkat,” tulis laporan Danantara, Jumat (16/1).
3. Mesin Investasi: Peran Strategis Danantara
Melalui Danantara Investment Management (DIM) dan Danantara Asset Management (DAM), lembaga ini akan melakukan optimalisasi aset BUMN dan penyebaran modal awal untuk membuka jalan bagi investasi berkelanjutan.
Tantangan dan Catatan Kritis
Meski optimis, Danantara memberikan catatan penting mengenai “penyempitan” aktivitas investasi. Tahun lalu, pertumbuhan lebih banyak didorong oleh investor domestik, sementara Investasi Asing Langsung (FDI) cenderung menurun akibat ketidakpastian global.
Selain itu, ekspansi kredit masih terkonsentrasi pada sektor tertentu seperti:
• Pertambangan
• Logistik
• Kesehatan
Waspadai Risiko Makro dan Likuiditas
Danantara mengingatkan pemerintah untuk tetap waspada terhadap risiko inflasi, fluktuasi nilai tukar, dan potensi kenaikan kredit macet (NPL). Salah satu tantangan struktural terbesar yang disoroti adalah stagnasi likuiditas domestik terhadap PDB sejak krisis keuangan Asia.
“Tanpa ekspansi likuiditas yang memadai, pembiayaan proyek sektor publik dikhawatirkan dapat menghambat (crowding out) investasi sektor swasta,” tegas Danantara.
Untuk mencapai transformasi jangka panjang, Danantara menekankan pentingnya penguatan industri manufaktur, peningkatan rasio pajak, dan kemandirian pangan untuk menjaga stabilitas harga di masa depan.











































