Dailybisnis.com, Jakarta – Pasar modal Indonesia menunjukkan taji di awal tahun 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses melesat 1,55% dan parkir di level psikologis 9.075 pada penutupan perdagangan Kamis (14/1). Kepercayaan investor global pun kembali pulih yang tercermin dari catatan net buy asing sebesar Rp3,2 triliun dalam sepekan terakhir.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menyebutkan bahwa arus modal masuk ini merupakan respon positif terhadap stabilitas ekonomi domestik. Di tengah bayang-bayang kebijakan tarif perdagangan Presiden AS Donald Trump terhadap Eropa dan perlambatan domestik China, Indonesia justru menunjukkan daya tahan yang solid.
Sentimen Global: Antara Inflasi AS dan “Perang Dagang” Trump
Meskipun inflasi AS mulai stabil di angka 2,7% yoy, pasar global masih dibayangi ketidakpastian. Rencana Trump mengenakan tarif impor 10% hingga 25% bagi negara-negara Eropa memicu ketegangan diplomatik dengan Uni Eropa.
“Hingga kini, mekanisme penerapan tarif tersebut masih belum jelas, sehingga menjaga volatilitas di pasar global tetap tinggi,” ujar Imam.
Namun, di sisi komoditas, harga timah mencetak rekor tertinggi sejak 2022 di level USD 53.400 per ton, sementara batu bara merangkak naik ke USD 110 per ton seiring masifnya pembangunan pembangkit listrik baru di China.
Fundamental Domestik Kian Kokoh
Kinerja apik IHSG didorong oleh data internal yang menggembirakan:
• Penjualan Ritel: Tumbuh 6,3% yoy pada November 2025, laju tercepat sejak awal 2024.
• Investasi Asing (FDI): Kuartal IV 2025 melesat 4,3% menjadi Rp256,3 triliun, didominasi sektor logam dan pertambangan.
Rekomendasi Saham & Instrumen Pilihan Pekan Ini
Menghadapi fase konsolidasi IHSG di rentang support 9.000 dan resistance 9.200, IPOT merekomendasikan tiga saham unggulan dan satu instrumen pendapatan tetap:
1. JPFA (Buy)
• Target Harga: 2.880 | Stop Loss: < 2.610
• Analisis: Mendapat katalis kuat dari kenaikan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) 2026 yang melonjak 5 kali lipat menjadi Rp335 triliun. Sebagai pemain utama unggas, JPFA diuntungkan oleh lonjakan permintaan protein ayam dan telur.
2. BBRI (Buy on Breakout)
• Target Harga: 4.060 | Stop Loss: < 3.760
• Analisis: Menjadi favorit asing dengan net buy Rp575,7 miliar dalam sepekan. Hal ini menandakan kembalinya kepercayaan pada sektor perbankan big caps.
3. AADI (Buy on Breakout)
• Target Harga: 8.300 | Stop Loss: < 7.450
• Analisis: Terkerek sentimen kenaikan harga batu bara global dan rencana China mengoperasikan 100 pembangkit listrik tenaga batu bara baru.
4. Obligasi BAFI03BCN4 (Low Risk)
• Kupon: 5,65% per tahun | Jatuh Tempo: 19 November 2028
• Analisis: Cocok untuk diversifikasi di tengah volatilitas. Memiliki rating idAAA, obligasi korporasi dari Bussan Auto Finance ini menawarkan stabilitas pendapatan yang aman.
Tips Kelola Portofolio
IPOT menyarankan investor memanfaatkan fitur Multi-Account untuk memisahkan strategi investasi (misal: akun khusus saham trading dan akun khusus obligasi) agar risiko lebih terkendali.











































