Dailybisnis.com, Medan – Harga emas dunia kembali mengguncang pasar komoditas dengan mencetak rekor tertinggi baru, mendekati level psikologis $5.000 per ons troy. Lonjakan tajam ini terjadi di tengah memanasnya tensi geopolitik global dan teka-teki mengenai siapa yang akan menahkodai Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) selanjutnya.
Analis Pasar Modal, Gunawan Benjamin, menyoroti bahwa harga emas pada perdagangan pagi ini telah menyentuh angka $4.955 per ons troy. Jika dikonversi ke mata uang lokal, harga emas saat ini sudah berada di kisaran Rp2,7 juta per gram.
Faktor Pemicu Utama
Menurut Gunawan, ada dua sentimen besar yang membuat investor berbondong-bondong menyelamatkan aset mereka ke instrumen safe haven:
1. Suksesi Kepemimpinan The Fed: Proses wawancara kandidat Gubernur Bank Sentral AS menciptakan awan ketidakpastian. Pasar berspekulasi bahwa pergantian kepemimpinan mungkin akan membawa kebijakan yang lebih dovish atau pemangkasan suku bunga yang lebih cepat.
2. Ketegangan Geopolitik: Kondisi global yang kian tidak menentu memperburuk prospek ekonomi, sehingga emas menjadi pilihan utama untuk lindung nilai (hedging).
“Emas kembali mencetak rekor tertinggi baru dan sangat berpeluang menembus level psikologis $5.000 per ons dalam waktu dekat,” ujar Gunawan Benjamin, Jumat (23/1/2026).
Kontras Pasar Saham dan Rupiah
Di sisi lain, Gunawan mencatat adanya anomali di pasar modal domestik. Meski mayoritas bursa Asia menguat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru tertekan hebat. Sempat dibuka menguat ke level 9.031, IHSG justru terjun bebas ke zona merah hingga menyentuh 8.868, level terburuknya sejauh ini.
Sementara itu, nilai tukar Rupiah terpantau masih menunjukkan taji dengan menguat di kisaran Rp16.845 per US Dolar. Stabilnya imbal hasil US Treasury di level 4,25% dan USD Index di posisi 98,3 membuat mata uang Garuda relatif aman dari guncangan data ekonomi AS terbaru.
Data Inflasi AS
Meskipun inflasi inti AS bulan November menunjukkan kenaikan yang berpotensi mengikis ekspektasi pemangkasan bunga acuan, pasar tampaknya lebih fokus pada isu kepemimpinan The Fed.
“Pelaku pasar masih menunggu sinyal selanjutnya sebelum mengambil kesimpulan kuat apakah suku bunga acuan akan tetap bertahan atau justru diturunkan,” tambahnya.











































