Dailybisnis.com, Medan – Ketegangan geopolitik global memasuki babak baru setelah Amerika Serikat (AS) mempertegas ambisinya untuk mengambil alih kedaulatan wilayah Greenland sebagai pangkalan militer.
Langkah agresif ini langsung memicu kepanikan pasar, mengirim harga emas dunia meroket hingga menembus level psikologis baru di angka $5.086 per troy ons, atau setara dengan Rp2,75 juta per gram.
Analis Pasar Modal, Gunawan Benjamin, menilai bahwa lonjakan harga emas yang fantastis ini merupakan reaksi alami investor yang mencari aset aman (safe haven) di tengah ketidakpastian global yang kian ekstrem.
“Harga emas saat ini tidak hanya didorong oleh data ekonomi, tapi murni oleh eskalasi tensi geopolitik. Niat AS atas Greenland dan buntunya kesepakatan damai Rusia-Ukraina menciptakan badai sempurna bagi harga emas untuk terus mencetak rekor,” ujar Gunawan, Senin (26/1/2026).
IHSG Menguat Tipis di Tengah Merahnya Bursa Asia
Di pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka cukup tangguh di level 8.967 pada awal pekan ini. Meski demikian, bayang-bayang koreksi tetap menghantui seiring dengan mayoritas bursa Asia yang terjerembab di zona merah.
IHSG diproyeksikan akan bergerak fluktuatif dalam rentang 8.930 hingga 9.000 sepanjang hari ini. Beruntung, kinerja IHSG mendapat sokongan dari penguatan mata uang Rupiah yang berada di posisi Rp16.755 per US Dolar.
Dolar AS Tertekan Jelang Agenda The Fed
Gunawan Benjamin menambahkan bahwa pelemahan US Dollar Index ke kisaran 97.06 serta turunnya imbal hasil US Treasury 10 tahun ke level 4,217% memberi ruang napas bagi mata uang Garuda.
“Pasar sedang dalam posisi wait and see menanti testimoni Presiden AS pada Selasa dan Rabu, serta kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed) pada hari Kamis. Jika narasi The Fed cenderung melunak di tengah memburuknya indikator ekonomi AS, Rupiah punya peluang untuk terus menguat, yang secara otomatis akan menopang IHSG dari tekanan bursa regional,” jelasnya.
Sentimen Global: Rusia-Ukraina Masih Buntu
Selain isu Greenland, pelaku pasar juga mencermati perkembangan di Eropa Timur. Harapan akan perdamaian antara Rusia dan Ukraina kembali menemui jalan buntu. Meski kedua belah pihak sepakat untuk melanjutkan diskusi, ketidakjelasan hasil negosiasi ini menjadi beban tambahan bagi pasar keuangan global.
Para investor kini disarankan untuk tetap waspada terhadap volatilitas tinggi dalam sepekan ke depan, mengingat banyaknya rilis data statistik resmi dari AS yang akan menjadi kompas arah kebijakan ekonomi global selanjutnya.











































