Dailybisnis.com, Medan – Ketegangan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan ekonomi Amerika Serikat membawa harga emas dunia ke level tertinggi baru. Namun, di tengah reli emas yang tak terbendung, pasar modal dan nilai tukar Rupiah di dalam negeri justru menunjukkan performa yang tangguh pada penutupan perdagangan awal pekan ini.
Analis Pasar Modal, Gunawan Benjamin, mencatat bahwa harga emas dunia kini bertengger di kisaran $5.092 per ons troy atau sekitar Rp2,76 juta per gram. Lonjakan ini dipicu oleh akumulasi aset aman (safe haven) oleh investor menyusul ancaman kenaikan tarif impor 100% dari Presiden AS terhadap Kanada, serta risiko government shutdown di AS akibat pemblokiran RUU pendanaan oleh Partai Demokrat.
“Kombinasi sentimen negatif global, mulai dari ketegangan di Timur Tengah hingga ketidakpastian hubungan AS-Eropa, membuat emas menjadi primadona. Investor cenderung menghindari aset berisiko dan beralih ke emas,” ujar Gunawan Benjamin, Senin (26/1/2026).
Rupiah dan IHSG Melawan Arus
Meski tekanan global meningkat, mata uang Rupiah berhasil ditutup menguat di level 16.770 per US Dolar. Menurut Gunawan, penguatan ini didorong oleh melemahnya indikator keuangan AS seperti USD Index dan imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun. Saat ini, pelaku pasar tengah mengalihkan fokus pada kebijakan moneter The Fed yang akan diumumkan pekan ini.
Kinerja positif juga terlihat di lantai bursa. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,27% ke level 9.058. Pencapaian ini tergolong istimewa karena terjadi di saat mayoritas bursa saham di Asia justru memerah.
“IHSG sempat mengalami volatilitas tinggi dan menyentuh level terendah di 8.923 sebelum akhirnya berhasil rebound ke level tertingginya di 9.058 pada penutupan. Ini menunjukkan adanya kepercayaan pasar domestik yang cukup kuat meski dibayangi ketidakpastian global,” tambah Gunawan.
Kondisi pasar saat ini menggambarkan anomali yang menarik, di mana instrumen safe haven seperti emas mencetak rekor, namun pasar keuangan Indonesia masih mampu memanfaatkan pelemahan indikator ekonomi AS untuk tetap berada di zona hijau.











































