Dailybisnis.com, Medan – Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal mempertahankan momentum penguatan pada pembukaan perdagangan akhir pekan, Jumat (30/1/2026). Sempat dibuka sumringah di level 8.308, IHSG justru berbalik arah (v-shape) dan terperosok ke kisaran 8.220 pada sesi pagi.
Analis Pasar Modal, Gunawan Benjamin, menilai pergerakan ini merupakan kombinasi dari koreksi teknikal dan respons pasar terhadap ketegangan politik-ekonomi di Amerika Serikat yang kian memanas.
Intervensi Trump Terhadap The Fed: Pedang Bermata Dua
Menurut Gunawan, pasar global saat ini sedang menyoroti keseriusan Presiden AS, Donald Trump, untuk mengganti Gubernur Bank Sentral AS (The Fed) dalam waktu dekat. Sikap agresif Trump ini didorong oleh ketidaksabarannya melihat The Fed yang belum kunjung memangkas suku bunga acuan sesuai seleranya.
“Secara teori, tekanan Presiden AS terhadap The Fed seharusnya bisa memicu pelemahan US Dolar dan menjadi katalis positif bagi pasar Asia karena adanya kepastian penurunan bunga acuan ke depan. Namun, realitanya Rupiah justru masih tertekan pagi ini di level 16.795 per US Dolar,” ujar Gunawan.
Kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral AS justru membuat pelaku pasar bersikap wait and see, yang tercermin dari USD Index yang masih bergerak menguat terbatas di level 96.61.
IHSG Berpotensi Uji Level 8.150
Melihat volatilitas yang tinggi, Gunawan memproyeksikan IHSG masih akan berada di bawah tekanan hingga penutupan perdagangan pekan ini.
“IHSG diproyeksikan akan bergerak dalam rentang yang sangat lebar, antara 8.150 hingga 8.310. Koreksi teknikal yang terjadi saat ini menunjukkan pasar sedang mencari titik keseimbangan baru di tengah ketidakpastian global,” tambahnya.
Emas Dunia: Koreksi di Tengah Bayang-Bayang Perang
Di pasar komoditas, harga emas dunia juga mengalami koreksi teknikal setelah sempat meroket tajam. Saat ini, emas ditransaksikan di level $5.152 per ons troy atau setara dengan Rp2,8 juta per gram.
Meski tengah terkoreksi, Gunawan Benjamin melihat emas tetap menjadi aset yang sangat seksi dan berpotensi berbalik menguat (rebound) karena didorong dua faktor fundamental:
1. Siklus Suku Bunga: Tekanan politik di AS yang memaksa pemangkasan bunga acuan The Fed.
2. Geopolitik: Ketegangan konflik antara AS dan Iran yang kian mendekati ambang perang terbuka.
“Emas tetap menjadi safe haven utama. Jika tensi perang pecah atau The Fed akhirnya menyerah pada tekanan Trump, harga emas bisa mencetak rekor baru lagi,” pungkas Gunawan.











































