Dailybisnis.com, Medan – Memasuki pekan terakhir Januari 2026, fluktuasi harga komoditas pangan mulai terasa di Sumatera Utara. Berdasarkan pantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), dua komoditas utama, yakni cabai merah dan daging sapi, tercatat mengalami tren kenaikan harga di sejumlah pasar tradisional.
Kenaikan Cabai Merah Akibat Gangguan Pasokan
Di Kota Medan, harga cabai merah yang sebelumnya berada di rata-rata Rp23.100 per kg kini telah merangkak naik ke kisaran Rp29.400 per kg. Bahkan, di wilayah Lubuk Pakam, harga sempat menyentuh angka Rp37.000 per kg pada awal pekan ini. Sementara di daerah Deli Serdang seperti Tanjung Morawa, pedagang yang sebelumnya menjual Rp19.000 kini membanderol di harga Rp25.000 per kg.
Ketua Tim Pemantau Harga Pangan Sumut, Gunawan Benjamin, mengungkapkan bahwa kenaikan ini dipicu oleh gangguan pasokan akibat bencana alam pada November lalu. Meski stok secara umum mencukupi, penurunan produktivitas akibat bencana membuat permintaan ke tingkat petani melonjak drastis.
Menjaga Keseimbangan Harga Keekonomian
Gunawan menegaskan bahwa kenaikan saat ini masih berada dalam rentang harga keekonomian yang wajar, yakni antara Rp28.000 hingga Rp33.000 per kg di tingkat pengecer. Oleh karena itu, ia menilai pemerintah belum perlu melakukan intervensi pasar.
“Kita tidak boleh hanya mempertimbangkan sisi konsumen yang menginginkan harga murah. Perlu dipahami bahwa saat harga terlalu jatuh, petani yang akan sangat dirugikan. Hal ini berpotensi memicu kenaikan harga yang lebih ekstrem di masa depan. Dalam ekonomi pangan, sejarah sering kali berulang jika keseimbangan ini diabaikan,” jelas Gunawan, Selasa (27/1/2026).
Daging Sapi Ikut Terkerek Biaya Produksi
Selain cabai, harga daging sapi di pasar-pasar besar seperti Sukaramai, Petisah, Pusat Pasar, dan Brayan juga mengalami kenaikan berkisar antara Rp2.500 hingga Rp10.000 per kg. Berbeda dengan cabai, kenaikan harga daging sapi lebih dipicu oleh faktor hulu, yaitu tingginya biaya produksi.
Mahalnya harga jagung yang mendorong kenaikan harga pakan menjadi alasan utama para pedagang melakukan penyesuaian harga. Gunawan menyebut fenomena ini sebagai dinamika pasar di mana harga pangan akan selalu mencari titik keseimbangan baru mengikuti kondisi biaya produksi terkini.











































