Dailybisnis.com, Jakarta — Sektor pariwisata Indonesia kembali menunjukkan taringnya sebagai salah satu tulang punggung perekonomian nasional. Sepanjang Semester I 2026, devisa pariwisata berhasil menembus angka 8,43 miliar dolar AS (setara Rp 145,13 triliun). Angka ini mengalami kenaikan sebesar 2,88 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana menegaskan bahwa indikator keberhasilan pariwisata kini tidak lagi sekadar menghitung berapa banyak wisatawan yang datang, melainkan seberapa besar manfaat ekonomi yang mengalir langsung ke tengah masyarakat.
“Bagi kami, angka ini penting. Karena pariwisata bukan hanya tentang berapa banyak wisatawan yang datang, tetapi seberapa besar nilai ekonomi yang mereka tinggalkan di Indonesia dan seberapa luas manfaatnya dirasakan masyarakat,” ujar Menpar Widiyanti dalam Laporan Bulanan Kinerja Kemenpar di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Transaksi Wisatawan Hidupkan UMKM dan Ekonomi Lokal
Kenaikan devisa pariwisata tercipta dari kombinasi lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang mencapai 8,98 juta kunjungan (tumbuh 5,23%) hingga Juli 2026, serta tingginya pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) yang mencatatkan 737,85 juta perjalanan.
Setiap rupiah dan dolar yang dibelanjakan wisatawan—mulai dari memesan akomodasi hotel, menikmati wisata kuliner, hingga membeli produk kerajinan UMKM—memberikan dampak berganda (multiplier effect) pada rantai ekonomi lokal.
Perhitungan Tourism Satellite Account oleh BPS mencatat bahwa kontribusi langsung pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia telah mencapai 4,78 persen atau sekitar Rp 1,139 triliun.
Desa Wisata Jadi Ujung Tombak
Guna memastikan pertumbuhan ekonomi tidak hanya berpusat di kota-kota besar, Kementerian Pariwisata terus mendorong pengembangan basis ekonomi kerakyatan melalui Desa Wisata. Hingga awal September 2026, Indonesia telah memiliki 6.400 desa wisata yang tersebar di berbagai daerah.
Upaya memperkuat skala usaha desa wisata juga terus digencarkan melalui kolaborasi strategis, di antaranya:
Pelatihan Desa Wisata Ramah Muslim: Kolaborasi bersama Bank Indonesia yang melibatkan 25 desa wisata unggulan dari 5 provinsi untuk memperluas cakupan pasar.
Akses Pasar Digital & Pameran: Pelibatan desa wisata unggulan dalam ajang Karya Kreatif Indonesia 2026 untuk membuka akses pemesanan paket wisata secara langsung.
Penguatan Event Lokal: Mendorong penyelenggaraan Karisma Event Nusantara (KEN) yang terbukti ampuh melibatkan pelaku UMKM dan pekerja seni daerah.
Melalui arah pembangunan pariwisata yang makin berkualitas ini, pemerintah optimistis momentum pertumbuhan pariwisata tidak hanya memperkuat devisa negara di tengah ketidakpastian global, tetapi juga terus membuka peluang usaha dan menyerap tenaga kerja di tingkat tapak.





