Dailybisnis.com, Jakarta — Di tengah keterbatasan ekonomi dan akses geografis, sepasang sepatu baru atau paket pangan sederhana sering kali menjadi penopang asa yang telah lama dinantikan. Menjawab tantangan tersebut, PT Bank Muamalat Indonesia Tbk bersama Baitulmaal Muamalat (BMM) menyalurkan bantuan sosial menyasar masyarakat di wilayah pelosok dan pesisir Nusantara.
Penyaluran ini menjangkau Desa Tarano di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, serta Desa Dedeta di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Di dua wilayah tersebut, banyak anak dan santri harus mengenakan alas kaki usang—bahkan berjalan tanpa alas kaki—akibat kendala ekonomi keluarga petani serta sulitnya akses transportasi menuju perkotaan.
Melalui program Sepatu Impian, BMM mendistribusikan total 113 pasang sepatu sekolah, yang terdiri atas 63 pasang bagi santri Pondok Darurrosyidin di Sumbawa dan 50 pasang bagi anak-anak di Desa Dedeta.
Selain perlengkapan pendidikan, jangkauan aksi kemanusiaan ini turut menyasar wilayah pesisir Banten, meliputi PAUD Al Islah di Kabupaten Serang dan Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin di Kabupaten Pandeglang. Bantuan yang digulirkan mencakup 100 mushaf Al-Qur’an, 100 paket Qurban Rendang Kaleng, 34 paket makanan bergizi untuk anak yatim dan dhuafa, 20 paket beras bagi lansia, serta santunan bagi 15 guru ngaji sukarela.
Direktur Eksekutif BMM, Tegar Sangga Barkah, menegaskan bahwa esensi dari bantuan ini melampaui sekadar pemenuhan kebutuhan material jangka pendek. Sepatu baru dirancang menjadi pemantik rasa percaya diri anak-anak dalam menuntut ilmu, sementara mushaf Al-Qur’an disalurkan guna memperkuat pembinaan keagamaan masyarakat.
“Setiap bantuan yang diberikan merupakan kebutuhan utama yang harus dipenuhi untuk menjaga kelangsungan hidup para penerima manfaat,” ujar Tegar, Selasa (11/8).
Senada dengan hal tersebut, Pembina BMM sekaligus Direktur Utama Bank Muamalat, Imam Teguh Saptono, menyampaikan bahwa sinergi program sosial ini merupakan wujud nyata komitmen lembaga dalam mengelola dan menyalurkan amanah donatur agar berdampak luas dan berkelanjutan bagi masyarakat prasejahtera.
“Sebab, di balik setiap bantuan yang diberikan, selalu ada harapan yang tumbuh, agar anak-anak tetap bersekolah, para guru terus mengabdi, dan masyarakat pelosok memiliki keyakinan bahwa mereka tidak pernah berjalan sendiri,” pungkas Imam.





