Dailybisnis.com, Medan – Pasar keuangan Indonesia menunjukkan dinamika yang kontras pada penutupan perdagangan hari ini. Di satu sisi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, namun di sisi lain, nilai tukar Rupiah kian terpuruk dan semakin mendekati level psikologis Rp17.000 per Dolar AS.
Analis Pasar Modal, Gunawan Benjamin, menyoroti fenomena ini sebagai bentuk ketahanan bursa saham domestik di tengah tekanan eksternal yang cukup berat.
IHSG Menguat Berkat “Suntikan” Saham Perbankan
IHSG sempat mengalami koreksi ke level 9.025 pada sesi pertama, namun berhasil berbalik arah dan ditutup menguat 0,64% ke level 9.133,873. Ini merupakan posisi penutupan tertinggi IHSG sejauh ini.
“Penguatan IHSG hari ini sangat ditopang oleh performa impresif emiten sektor perbankan. Saham-saham big caps seperti BBCA, BBRI, BBNI, BMRI, hingga BBYB menjadi mesin penggerak utama yang menjaga indeks tetap di zona hijau,” ujar Gunawan Benjamin, Senin (19/1/2026).
Rupiah Tertekan Defisit APBN dan Sentimen China
Berbanding terbalik dengan saham, Rupiah ditutup melemah di level Rp16.935 per Dolar AS. Selama perdagangan, mata uang Garuda bergerak di rentang Rp16.920 hingga Rp16.945. Gunawan menilai, level Rp17.000 kini sudah berada di depan mata.
“Rupiah kian dekat ke 17.000 karena akumulasi sentimen negatif eksternal. Selain itu, pasar saat ini sangat fokus pada potensi defisit APBN yang diperkirakan berlanjut di tahun 2026. Ditambah lagi, data PDB China kuartal IV yang tumbuh 4,5% mengonfirmasi terjadinya perlambatan ekonomi di sana,” jelas Gunawan.
Harga Emas Makin Berkilau di Angka Rp2,55 Juta
Di tengah memburuknya kinerja Rupiah, harga emas dunia justru semakin kokoh di zona hijau. Pada perdagangan sore ini, emas ditransaksikan di kisaran US$4.663 per troy ons atau sekitar Rp2,55 juta per gram.
Kombinasi antara naiknya harga emas dunia dan pelemahan nilai tukar Rupiah menciptakan momentum bagi emas untuk terus mencetak rekor tertinggi baru. Bagi investor domestik, emas menjadi aset pelindung nilai (safe haven) yang paling diburu saat ini untuk menjaga kekayaan dari depresiasi mata uang.











































