Dailybisnis.com, Nias – Harapan ribuan nelayan di Kabupaten Nias Utara untuk mendapatkan akses BBM dengan harga terjangkau segera menjadi kenyataan. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) secara resmi menyatakan dukungannya untuk mengoptimalkan penyaluran BBM Subsidi (JBT) dan BBM Kompensasi (JBKP) di wilayah tersebut.
Langkah ini diambil mengingat sektor perikanan adalah tulang punggung ekonomi Nias Utara, dengan total produksi mencapai 16.000 ton dan menghidupi lebih dari 3.300 nelayan.
Solusi Jarak Jauh: SPBU Satu Harga di Tuhemberua dan Afulu
Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, bersama Anggota Komite BPH Migas, Bambang Hermanto, melakukan tinjauan lapangan langsung pada Kamis (15/1). Mereka menyoroti kendala utama di lapangan, yakni jarak antar penyalur BBM yang sangat jauh, bahkan mencapai 52,5 KM dari Lahewa ke Alasa.
Kondisi ini seringkali memaksa masyarakat membeli BBM di tingkat pengecer dengan harga yang jauh lebih mahal. Sebagai solusinya, pemerintah akan mempercepat pembangunan penyalur BBM Satu Harga di Kecamatan Tuhemberua dan Afulu yang ditargetkan beroperasi sebelum Desember 2026.
“Pembangunan ini tidak hanya melayani nelayan melalui SPBU Nelayan, tetapi juga sektor pertanian, UMKM, dan transportasi darat. Dengan skala yang lebih luas, asas kebermanfaatannya akan jauh lebih besar dan menarik bagi investor,” jelas Wahyudi Anas.
Legalitas Jadi Kunci Harga Subsidi
BPH Migas juga menekankan pentingnya aspek legalitas. Nelayan diimbau segera mengurus Surat Rekomendasi dari Dinas Perikanan melalui aplikasi XStar. Dengan surat ini, nelayan mendapatkan jaminan harga resmi pemerintah dan menjadi prioritas penyaluran.
Wakil Bupati Nias Utara, Yusman Zega, menyambut baik inisiatif ini. Ia menegaskan pihak pemkab akan mempermudah segala proses perizinan demi mempercepat pembangunan SPBU baru tersebut.
“Mudah-mudahan nelayan kita tidak lagi butuh waktu lama dan perjalanan jauh hanya untuk membeli BBM. Ini adalah kunci peningkatan pendapatan mereka,” ujar Yusman.
Stok BBM Kepulauan Nias Dipastikan Aman
Selain meninjau lokasi SPBU, tim BPH Migas juga mengunjungi Fuel Terminal (FT) Gunungsitoli. Hasilnya, ketahanan stok BBM untuk Kepulauan Nias dalam kondisi sangat aman:
• Pertalite: Cukup untuk 14,4 hari ke depan.
• Biosolar: Cukup untuk 8 hari ke depan.
• Pasokan Tambahan: Kapal pengangkut dijadwalkan merapat pada 19 Januari 2026.
Meskipun wilayah Sumatera Utara terkadang menghadapi tantangan bencana alam, FT Gunungsitoli dipastikan tetap tangguh menjadi tulang punggung distribusi BBM bagi masyarakat di kepulauan terdepan Indonesia ini.











































