Dailybisnis.com, Medan – Pasar keuangan domestik hari ini berada dalam tekanan besar seiring dengan memanasnya tensi geopolitik global. Analis pasar modal, Gunawan Benjamin, menyoroti dua fenomena kontras: anjloknya instrumen aset berisiko dan meroketnya harga emas ke rekor tertinggi sejarah baru.
Emas Jadi Primadona di Tengah Kekhawatiran Perang Dunia III
Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Eropa yang kini meluas ke isu ekonomi telah memicu kekhawatiran pasar akan potensi terjadinya Perang Dunia Ketiga. Kondisi ini justru menjadi katalis positif bagi harga emas sebagai aset aman (safe haven).
“Pada perdagangan pagi ini, harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi baru di level $4.834 per ons troy, atau berkisar di angka Rp2,65 juta per gram,” ujar Gunawan Benjamin, Rabu (21/1).
Ia menambahkan bahwa selain emas, kekhawatiran pasar juga mendorong kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun ke level 4,826%, yang secara otomatis memberikan tekanan tambahan bagi pasar keuangan di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Rupiah dan IHSG Terhimpit Sentimen Global
Di sisi lain, nilai tukar Rupiah terpantau melemah di kisaran level 16.950 per US Dolar. Menurut Gunawan, pelemahan ini dipicu oleh kombinasi sentimen negatif, termasuk rencana AS yang berupaya menganeksasi Greenland serta perang tarif antara AS dan Eropa.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun tak luput dari koreksi, dibuka melemah di level 9.094. “Pelemahan IHSG sejalan dengan memburuknya mayoritas bursa saham di Asia. Sektor keuangan sangat dirugikan saat tensi geopolitik memanas dan meluas ke ranah ekonomi,” jelasnya.
Proyeksi BI Rate: Mempertahankan Level 4,75%
Menjelang pengumuman suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) hari ini, Gunawan memproyeksikan bahwa BI akan tetap mempertahankan suku bunga di level 4,75%. Ia menilai langkah ini merupakan pilihan paling rasional di tengah ketidakpastian global.
“Saya menilai terlalu berisiko jika BI menurunkan bunga acuan saat ini. Potensi tekanan terhadap Rupiah berpeluang memburuk jika bunga acuan diturunkan di tengah kondisi pasar yang sedang bergejolak,” tegas Gunawan.
Kondisi pasar saat ini menuntut investor untuk lebih waspada dan cermat dalam mengelola portofolio, mengingat volatilitas yang sangat tinggi akibat isu-isu geopolitik yang sulit diprediksi.











































