Dailybisnis.com, Medan – Semangat kebersamaan dan cinta tanah air kembali dihidupkan melalui perhelatan seni tahunan, Jong Batak’s Arts Festival #13, yang resmi dibuka pada Rabu (28/10/2026).
Mengusung tema yang dekat dengan kehidupan kita, “Air: Muara Ingatan”, festival kali ini mengajak kita merenungkan kembali nilai-nilai sejarah Sumpah Pemuda. Air diibaratkan sebagai simbol perjalanan peradaban, penjaga kenangan bersama, sekaligus tempat bermuaranya berbagai ide dan impian kebangsaan.
Suasana hari pembukaan terasa hangat ketika Direktur Festival, Audrin Manurung, bersama Kurator Festival, Bob A. Sitorus, menyampaikan sambutan mereka. Dalam kesempatan tersebut, Audrin Manurung menegaskan pentingnya konsistensi ruang seni sebagai wadah merawat ingatan kolektif masyarakat.
Senada dengan hal itu, Bob A. Sitorus menjelaskan bagaimana karya-karya yang dipamerkan dirancang agar menjadi ruang bertemunya beragam cerita, identitas, dan sejarah yang terus hidup mengalir.
Selepas sambutan, para tamu diajak mengikuti tur pameran yang dipandu langsung oleh sang kurator. Perjalanan ini menyusuri dua area utama, yakni Ruang Desir sebagai ruang pameran dan Ngarai sebagai instalasi seni. Pembukaan tur ini disambut pesona pertunjukan tari bertajuk “Bunyi Beriak dalam Pusaran”, sebuah penampilan puitis yang menggambarkan elemen air dan denyut ingatan manusia.

Memasuki acara inti, suasana berubah menjadi lebih khidmat dalam sesi Refleksi Sumpah Pemuda. Melalui pembacaan narasi kebudayaan, seluruh yang hadir diajak menoleh ke belakang, mengingat kembali semangat persatuan 1928 yang hingga kini terus merangkul keberagaman bangsa kita.
Tak hanya mengenang masa lalu, perhelatan ini juga membuka ruang pikir yang kritis lewat Diskusi Publik bertajuk “Dalam Arus Sumpah Pemuda: Kesalingterhubungan Praktik Seni dan Aktivisme”. Diskusi ini mengupas peran penting para seniman dan aktivis dalam menjaga gerakan budaya serta menghadapi tantangan zaman menyongsong satu abad Sumpah Pemuda.
Acara ini menghadirkan narasumber inspiratif seperti Jhon Fawer Siahaan, Eka Dalanta, Yudha Pohan, dan Ali Ridho Pane.
Rangkaian hari pertama yang penuh inspirasi ini ditutup dengan pemutaran dua film pilihan, yaitu “Tales of Belonging: To the Last Place on Earth” dan “Matawai”. Sesi ini tidak hanya memanjakan mata penonton, tetapi juga menjadi pemantik obrolan hangat seputar identitas diri, ruang tempat tinggal, hingga hubungan kita dengan alam sekitar.
Bagi Anda yang ingin menikmati ragam pameran, pertunjukan seni, dan diskusi interaktif, Jong Batak’s Arts Festival #13 masih akan terbuka untuk umum hingga 31 Oktober 2026. Mari datang dan menjadi bagian dari perjalanan ingatan ini.





