Dailybisnis.com, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi mengumumkan langkah besar untuk memoles wajah pasar modal Indonesia. Melalui strategi bertajuk “Bold and Ambitious Reforms”, OJK bersama Pemerintah dan Self Regulatory Organization (SRO) meluncurkan delapan rencana aksi guna memperkuat likuiditas dan kepercayaan investor.
Langkah ini diambil untuk memastikan pasar saham Indonesia tidak hanya besar secara kapitalisasi, tetapi juga memiliki kualitas yang diakui oleh Global Index Provider seperti MSCI.
Fokus Utama: Free Float 15% dan Transparansi Radikal
Salah satu poin paling krusial dalam reformasi ini adalah kenaikan batas minimum saham publik (free float). OJK menetapkan standar baru sebesar 15%, naik dua kali lipat dari ketentuan sebelumnya yang hanya 7,5%.
“Untuk emiten baru yang akan IPO, aturan 15% ini langsung berlaku. Sedangkan untuk emiten lama, kami berikan waktu transisi agar mereka bisa menyesuaikan melalui aksi korporasi seperti rights issue atau ESOP,” ujar Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi.
4 Klaster Transformasi Pasar Modal
Reformasi ini dibagi ke dalam empat klaster strategis untuk menciptakan ekosistem investasi yang lebih sehat:
1. Klaster Kebijakan Free Float: Penyesuaian standar global untuk meningkatkan likuiditas perdagangan.
2. Klaster Transparansi: Penguatan keterbukaan mengenai pemilik manfaat akhir (Ultimate Beneficial Owner) dan data kepemilikan saham yang lebih mendalam (granular).
3. Klaster Tata Kelola & Penegakan Hukum: Meliputi rencana Demutualisasi Bursa Efek Indonesia untuk mengurangi konflik kepentingan, serta sanksi tegas bagi pelaku manipulasi pasar dan penyebar informasi menyesatkan.
4. Klaster Sinergitas: Kolaborasi lintas lembaga (Kemenkeu, BI, dan Danantara) untuk memperdalam pasar sebagai sumber pembiayaan jangka panjang.
Perlindungan Investor Ritel Jadi Prioritas
Pjs. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, menegaskan bahwa integritas adalah harga mati. OJK berkomitmen untuk menindak tegas praktik curang yang selama ini merugikan investor ritel.
“OJK akan terus hadir untuk menjaga kepercayaan publik. Kami ingin memastikan pasar modal tumbuh sehat, berintegritas, dan kompetitif di kancah internasional,” tegas Hasan.
Senada dengan hal tersebut, CEO Danantara, Rosan Roeslani, menambahkan bahwa pertumbuhan market cap harus dibarengi dengan kualitas. “Bursa kita harus tumbuh dengan cara yang baik dan benar melalui pilar transparansi dan akuntabilitas,” ungkapnya.
Dengan reformasi ini, PT Bursa Efek Indonesia optimistis bobot Indonesia dalam indeks global akan meningkat, yang pada gilirannya akan menarik lebih banyak aliran dana asing masuk ke pasar domestik.










































