Dailybisnis.com, Medan – Banjir besar yang melumpuhkan 19 kecamatan di Kota Medan pada 27 November 2025 lalu menjadi titik balik bagi Pemerintah Kota Medan.
Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, menegaskan bahwa bencana terdahsyat tersebut tidak boleh sekadar menjadi catatan sejarah, melainkan harus menjadi landasan perombakan total sistem penanggulangan bencana.
Hal tersebut ditegaskan Rico Waas saat memimpin Rapat Kerja Tematik Pelaksanaan Pembangunan Kota Medan Tahun 2026 di Kantor Wali Kota Medan, Rabu (14/1/2026). Rapat ini menjadi momentum penguatan ketangguhan kota menghadapi ancaman bencana di masa depan.
Siklus 25 Tahunan dan Ancaman Iklim
Rico mengingatkan bahwa meskipun banjir 2025 disebut sebagai siklus 25 tahunan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS), perubahan iklim global membuat bencana serupa bisa datang lebih cepat tanpa diduga.
“Kita tidak boleh lupa pengalaman pahit itu. Penanganan bencana bukan hanya tugas BPBD, Dinas Pemadam, atau Dinas Sosial semata. Seluruh OPD harus terlibat aktif dalam mitigasi hingga penanganan di lapangan,” tegas Rico di hadapan jajaran kepala dinas.
Digitalisasi dan Komunikasi ‘Starlink’
Menghadapi tahun 2026, Rico mendorong transformasi digital dalam sistem peringatan dini. Ia memerintahkan pengembangan aplikasi kebencanaan terintegrasi yang memuat Early Warning System (EWS) secara real-time.
Belajar dari gangguan jaringan saat banjir besar, Wali Kota juga meminta solusi teknis yang matang untuk komunikasi darurat.
- Akses Satelit: Menyiapkan perangkat pendukung seperti Starlink di wilayah terdampak.
- EWS Terintegrasi: Penempatan alat pendeteksi di kanal banjir dan titik rawan.
- SOP Sederhana: Menyederhanakan pola koordinasi agar lebih taktis dan efektif.
Evakuasi Massal dan Logistik Modern
Rico Waas menginstruksikan setiap kelurahan memiliki titik kumpul berkapasitas 150-300 orang, sementara tingkat kecamatan wajib menyediakan lokasi evakuasi skala besar untuk lebih dari 1.000 orang di area yang tinggi dan aman.
Terkait logistik, Rico meminta BPBD melakukan riset teknologi pangan.
“Makanan di pengungsian harus praktis, bergizi, dan mudah disajikan. Kita butuh standar logistik yang lebih modern untuk penanganan pengungsi,” tambahnya.
Mobilisasi Relawan dan Armada Tangguh
Mengingat luas wilayah Medan yang mencapai 250 km², Rico menyadari keterbatasan personel BPBD. Solusinya, ia akan memperkuat relawan tanggap bencana di setiap instansi, gedung, hingga sektor usaha seperti perbankan dan restoran.
Selain itu, Pemko Medan akan memperkuat sarana prasarana dengan:
- Pengadaan Kendaraan Tangguh Banjir: Memastikan Pemko memiliki armada yang mampu menembus genangan tinggi.
- Kerja Sama Komunitas: Menandatangani MoU dengan komunitas kendaraan off-road untuk bantuan evakuasi.
- Edukasi Psikologis: Menggunakan sirene dan pengeras suara rumah ibadah dengan standar jelas untuk memberikan efek kejut agar warga tidak menunda evakuasi.
“Seluruh mitigasi dan teknis evakuasi ini harus dituangkan dalam SOP yang jelas. Kita harus lebih siap, lebih cepat, dan lebih tangguh,” pungkas Rico Waas.











































