Dailybisnis.com, Medan – Kinerja ekspor karet Sumatera Utara (Sumut) sepanjang tahun 2025 masih menunjukkan tren yang menantang. Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut mencatat volume ekspor tahun lalu mengalami penurunan tipis sebesar 1,97 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sekretaris Eksekutif Gapkindo Sumut, Edy Irwansyah, mengungkapkan bahwa total volume ekspor karet asal Sumut pada 2025 tercatat sebanyak 249.379 ton. Angka ini menyusut sekitar 4.997 ton jika dikomparasikan dengan capaian tahun 2024 yang mencapai 254.376 ton.
“Realisasi ini menunjukkan bahwa ekspor karet kita masih berada jauh di bawah kondisi normal yang biasanya mampu menembus angka 500 hingga 600 ribu ton per tahun,” ujar Edy Irwansyah di Medan, Rabu (28/1).
Dinamika Pasar dan Cuaca Ekstrem
Menurut Edy, penurunan ini merupakan imbas dari perlambatan permintaan global, khususnya dari sektor otomotif dan manufaktur di negara-negara importir utama. Hal ini diperparah dengan kondisi cuaca ekstrem yang melanda negara produsen utama seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Indonesia sendiri.
“Curah hujan tinggi hingga badai lokal telah menghambat kegiatan penyadapan dan pengolahan. Meskipun dari sisi harga, rataan harga karet SICOM TSR20 tahun 2025 meningkat menjadi 177,11 sen AS per kg, lebih tinggi dibanding tahun 2024 yang sebesar 174,34 sen AS per kg,” jelasnya.
Kenaikan harga tersebut, lanjut Edy, lebih disebabkan oleh pengetatan pasokan global akibat produksi yang belum pulih sepenuhnya.
Dominasi Pasar dan Isu EUDR
Sepanjang 2025, karet Sumut telah menjangkau 39 negara tujuan. Jepang masih menjadi mitra utama dengan kontribusi 31,71%, disusul Amerika Serikat (18,04%), Brasil (10,11%), Tiongkok (8,60%), dan India (5,80%). Sementara itu, di kawasan Eropa, Spanyol dan Italia menjadi penyerap terbesar dari total 19 negara tujuan di benua tersebut.
Terkait kebijakan European Union Deforestation Regulation (EUDR), Edy menyebut adanya sedikit ruang napas bagi pelaku industri. Penundaan penerapan kewajiban bebas deforestasi hingga 30 Desember 2026 memberikan waktu tambahan untuk persiapan sistem kepatuhan.
Proyeksi 2026: Masih Stagnan
Memasuki tahun 2026, Edy memprediksi produksi karet alam masih akan stagnan. Faktor penuaan tanaman karet dan keterbatasan peremajaan kebun menjadi kendala internal yang krusial.
“Dampak perubahan iklim dan fluktuasi minat petani akibat biaya input yang tinggi masih membayangi. Langkah strategis seperti percepatan peremajaan kebun, peningkatan mutu bahan baku, serta diversifikasi pasar ekspor sangat mendesak dilakukan guna menjaga daya saing karet Sumatera Utara di kancah global,” pungkasnya.











































