Dailybisnis.com, Jakarta – Sektor manufaktur Indonesia kembali mendapat suntikan investasi segar. Kementerian Perindustrian menyambut baik langkah Shell yang resmi mengoperasikan pabrik pembuatan grease (gemuk pelumas) atau Shell Grease Manufacturing Plant (GMP) di Marunda, Bekasi, Selasa (15/9/2026). Hadirnya fasilitas ini menjadi angin segar untuk memperkuat rantai pasok industri nasional sekaligus memangkas angka impor.
Fasilitas anyar ini dirancang mampu memproduksi grease hingga 12.000 ton per tahun. Ditambah dengan kapasitas Lubricants Oil Blending Plant (LOBP) yang sudah ada sejak 2022 sebesar 300 juta liter per tahun, Marunda kini menjelma menjadi salah satu pusat manufaktur pelumas terbesar.
“Bagi Pemerintah, investasi ini penting karena menghadirkan kapasitas produksi dan teknologi manufaktur baru, sekaligus memperkuat keterkaitan dengan industri pendukung di dalam negeri. Inilah arah industrialisasi yang kita kehendaki, yaitu investasi yang memperkuat kapasitas produksi, nilai tambah, teknologi, dan ekosistem industri nasional,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat meresmikan fasilitas tersebut.
Agus menambahkan, masuknya investasi bernilai tinggi ini makin menegaskan posisi vital Indonesia di kancah global.
“Dengan kapasitas tersebut, GMP Marunda berdasarkan data Shell, termasuk dalam tiga besar fasilitas grease Shell secara global. Ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki posisi penting dalam pengembangan kegiatan manufaktur Shell,” katanya.
Langkah ini juga menjadi solusi nyata untuk menekan angka impor. Pada 2025 lalu, impor grease Indonesia mencapai 22.377 ton, di mana lebih dari separuhnya—sekitar 11.757 ton—merupakan produk merek Shell Gadus. Kini, produk tersebut tak perlu lagi didatangkan dari luar negeri karena sudah bisa dibuat langsung di dalam negeri.
Tak hanya fokus pada produksi, pengoperasian pabrik ini turut menggandeng pelaku usaha lokal. Saat ini, lebih dari 50 vendor domestik telah dilibatkan dengan nilai pengadaan mencapai sekitar Rp30 miliar per tahun.
“Keterlibatan vendor domestik menjadi fondasi yang baik untuk membangun ekosistem rantai pasok yang semakin kuat di dalam negeri. Ke depan, local sourcing dapat terus diperluas, terutama untuk bahan baku, kemasan, dan jasa industri, sehingga manfaat investasi dapat dirasakan lebih luas melalui tumbuhnya industri pendukung dan kegiatan ekonomi di sepanjang rantai pasok,” tuturnya.
Ke depan, pemerintah berharap pabrik di Marunda ini tidak cuma jago kandang memenuhi pasar domestik, tetapi juga mampu menembus pasar internasional.
“Kita mulai dari Indonesia, memperkuat Indonesia, dan pada saatnya membawa produk yang dibuat di Indonesia ke pasar regional dan global. Kita ingin semakin banyak produk yang dibuat di Indonesia mampu masuk dan berperan dalam rantai pasok global,” katanya.
Selain mengusung teknologi otomatisasi modern, kawasan industri ini juga menerapkan konsep ramah lingkungan lewat penggunaan panel surya dan pemanenan air hujan. Pihak perusahaan juga aktif menjalankan program pemberdayaan masyarakat Desa BERSEMI yang mengusung ekonomi sirkular bagi ratusan rumah tangga di sekitar pabrik.
“Ini merupakan praktik baik yang patut terus dikembangkan, karena kemajuan industri harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan,” tegas Menperin.





