Dailybisnis.com, Medan — Anggota Komisi X DPR RI, Dr. Sofyan Tan, memaparkan berbagai gagasan strategis mulai dari potensi kesehatan cabai hingga rencana pembangunan fasilitas pertanian modern. Hal tersebut disampaikannya saat membuka acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengolahan dan Budidaya Cabai di Auditorium Djonny Taslim, Universitas Satya Terra Bhinneka, Medan, Sabtu (26/9).
Dalam arahannya, Sofyan Tan menyoroti tingginya ketergantungan masyarakat Indonesia—khususnya warga Sumatera Utara—terhadap cabai yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi kuliner lokal. Menurutnya, dari pola konsumsi ini dapat terlihat gambaran kondisi kesehatan masyarakat secara umum.
“Masyarakat kita sangat terbiasa dengan makanan pedas dan olahan seperti cabai rawit dan andaliman. Dari kebiasaan makan dan kondisi geografis ini, kita bisa melihat pola kesehatan masyarakat, seperti risiko iritasi tenggorokan pada penggemar pedas atau hipertensi di kawasan pesisir akibat tingginya konsumsi garam,” ujar Sofyan Tan.
Ia menambahkan bahwa tingginya ketergantungan masyarakat kerap membuat harga cabai fluktuatif di pasaran. Guna mengatasi masalah tersebut, Sofyan memacu para petani dan akademisi untuk beralih ke teknologi pertanian modern serta penggunaan benih unggul dan perawatan organik.

“Penggunaan varietas cabai keriting merah unggul itu sangat efisien. Hanya dari dua pohon saja, kita sudah bisa memanen sekitar 0,8 sampai 1 kilogram cabai. Sementara untuk cabai rawit, membutuhkan sekitar lima pohon untuk mendapatkan hasil yang sama,” jelasnya.
Sebagai seorang dokter, Sofyan Tan juga membeberkan beragam khasiat kesehatan yang terkandung di dalam cabai jika dikonsumsi secara bijak.
“Cabai mengandung vitamin C yang tinggi, membantu membakar lemak tubuh, hingga menjaga kesehatan pencernaan. Yang tak kalah penting, cabai kaya akan antioksidan dan zat antiinflamasi yang berperan mencegah pembengkakan sel abnormal pemicu kanker dan penyakit jantung,” ungkapnya.
Sebagai bentuk komitmen nyata dalam mendukung integrasi pendidikan dan pertanian ramah lingkungan, Sofyan Tan mengumumkan rencana pengolahan lahan kampus seluas 7.000 meter persegi. Lahan tersebut akan difungsikan untuk membangun rumah kaca (greenhouse) berbasis sistem hidroponik demi mendukung riset tanaman organik.
“Selain itu, sebagian lahan tersebut juga akan kami fungsikan untuk membangun sekolah yayasan guna memperluas akses pendidikan bagi masyarakat,” pungkasnya.
Kegiatan Bimtek ini menghadirkan Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Hortikultura, Gina Aliya Sopha, S.P., M.Si., Ph.D., sebagai pembicara utama. Acara disambut antusias oleh puluhan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari petani, mahasiswa, dosen, praktisi, hingga masyarakat umum.





