Dailybisnis.com, Batam – Siapa sangka, bagian dari ikan yang kerap dianggap limbah seperti kulit, kepala udang, hingga tulang ikan kini menjadi “tambang emas” baru bagi warga Kampung Tua Terih, Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, Batang. Lewat sentuhan inovasi dan pendampingan berkelanjutan, masyarakat pesisir di daerah tersebut kini mampu mengolah hasil laut menjadi beragam produk kuliner bernilai jual tinggi.
Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bertajuk Kampung Bahari Si Pelaut (Sinergi Inovasi Pengelolaan Sumber Daya Laut), Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) via Aviation Fuel Terminal Hang Nadim hadir mendorong kemandirian ekonomi sekaligus menjaga ketahanan pangan warga setempat.
Pjs. Area Manager Comm., Rel & CSR Sumbagut, Silvani Maiyestuhariani, menjelaskan bahwa program ini sebenarnya telah dirintis sejak empat tahun lalu untuk mengintegrasikan berbagai potensi lokal.
“Memasuki tahun keempat pelaksanaan program, Kampung Bahari Si Pelaut hadir sebagai integrasi dari beberapa program aspek program yang telah dilaksanakan sebelumnya, mulai dari sosial, ekonomi, hingga pendidikan”, ujar Silvani.

Inisiatif ini melibatkan berbagai kelompok lokal, seperti Kelompok Usaha Bersama (KUB) Terihindo Jaya Lestari, KUB Belian Tuah, Kelompok Wanita Tani Warisan Lestari, hingga Poklahsar Sukses Bersama. Bersama-sama, nelayan dan kelompok perempuan bahu-membahu mengembangkan budidaya ikan kakap, bawal, kerapu, budidaya hidroponik sayur dan ikan air tawar, hingga aksi rehabilitasi hutan mangrove.
Tak sekadar budidaya, sentuhan inovasi olahan perikanan menjadi kunci sukses warga. Dari tangan kreatif para ibu dan nelayan, lahir enam produk unggulan bernilai ekonomi tinggi: keripik kulit ikan tenggiri (varian original dan pedas manis), kerupuk kulit ikan kakap, swiss roll abon ikan, abon ikan gurih, hingga penyedap rasa alami yang diracik khusus dari tulang ikan dan kepala udang. Luar biasanya, olahan kuliner pesisir Batam ini kini tak cuma dinikmati warga lokal, tetapi sudah berhasil mengekspor produknya ke pasar Singapura dan Malaysia.

Manfaat besar dari pendampingan ini dirasakan langsung oleh masyarakat. Ketua KUB Terihindo Jaya Lestari, Saidar, mengungkapkan bagaimana bantuan yang konsisten mampu mengubah nasib kelompok nelayan yang dulunya sering gagal budidaya akibat keterbatasan modal dan akses pasar.
“Dulu kami hanya kelompok nelayan yang mengandalkan hasil tangkapan laut yang sangat bergantung pada kondisi cuaca dan musim. Selain pendampingan, kami dibekali penguatan kapasitas, penyediaan sarana budidaya, serta pengembangan akses pasar. Dukungan ini menjadi titik balik kami untuk membangun kembali usaha budidaya perikanan secara lebih terencana, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat”, ungkap Saidar.
Melalui program ini, Pertamina Patra Niaga menegaskan komitmennya untuk terus membersamai masyarakat pesisir Kampung Tua Terih. Langkah ini bukan sekadar menggerakkan roda ekonomi dan menciptakan pendapatan tambahan bagi keluarga, tetapi juga berkontribusi nyata terhadap penanganan perubahan iklim serta pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)—mulai dari pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, hingga kelestarian ekosistem laut.





